Persik Kediri dan Persib Bandung menunjukkan dua pendekatan berbeda dalam merespons dinamika Super League 2025/26. Dari tekad Marcos Reina menebus kekalahan perdana hingga fleksibilitas Eliano Reijnders yang memberi dimensi baru bagi lini tengah Persib, pekan ini menjadi cerminan penting arah kedua tim.
Marcos Reina Menilai Debut, Fokus Perbaikan Jelang Hadapi Persis
Kekalahan 0-3 dari Persita Tangerang di Stadion Indomilk Arena menjadi awal yang berat bagi Marcos Reina bersama Persik Kediri. Pelatih asal Spanyol itu mengakui bahwa timnya gagal menjaga konsistensi permainan, terutama setelah turun minum, meski tampil cukup solid pada babak pertama.
Menurut Reina, rencana permainan sebenarnya berjalan sesuai harapan di awal laga. Persik mampu menahan tekanan dan menjaga keseimbangan tanpa kebobolan. Namun, penurunan intensitas dan konsentrasi di babak kedua membuat Persik harus membayar mahal dengan tiga gol.
Reina menilai kekalahan tersebut sebagai bagian dari proses adaptasi, baik bagi dirinya maupun skuad Macan Putih. Alih-alih terjebak pada hasil negatif, ia memilih menggunakan sisa waktu yang tersedia untuk memperbaiki detail permainan sebelum menjamu Persis Solo di Stadion Brawijaya.
Kembalinya Telmo Castanheira Jadi Faktor Penting
Laga melawan Persis akan menjadi ujian lanjutan bagi filosofi permainan Reina. Kabar baiknya, Persik dipastikan kembali diperkuat Telmo Castanheira yang sebelumnya absen saat bertandang ke Tangerang. Kehadiran gelandang tersebut diharapkan mampu menambah kontrol di lini tengah sekaligus memperbaiki transisi bertahan yang menjadi titik lemah pada laga sebelumnya.
Reina menegaskan bahwa fokus utama tim kini adalah memperbaiki organisasi permainan dan menjaga intensitas sepanjang 90 menit. Ia juga menyebut bahwa para pemain memiliki tekad yang sama untuk menjadikan laga melawan Persis sebagai momentum kebangkitan.
Eliano Reijnders, Solusi Taktis Fleksibel Persib Bandung
Di Bandung, Persib justru menunjukkan sisi berbeda dari dinamika Super League musim ini. Kemenangan atas Bhayangkara Presisi Lampung FC tidak hanya penting dari sisi hasil, tetapi juga dari eksperimen taktik yang berjalan sukses. Absennya Marc Klok membuka ruang bagi Eliano Reijnders untuk tampil di posisi gelandang bertahan.
Keputusan Bojan Hodak menempatkan Reijnders di peran tersebut terbukti tepat. Eliano mampu menjalankan tugas memutus serangan lawan sekaligus menjadi penghubung antar lini. Bersama Thom Haye dan Luciano Guaycochea, ia menjaga ritme permainan Persib tetap stabil.
Kapasitas Fisik dan Adaptabilitas Jadi Nilai Tambah
Hodak menilai Eliano sebagai pemain dengan kapasitas fisik dan mental yang sangat mendukung kebutuhan tim. Kemampuannya menempuh jarak hingga 10 kilometer per pertandingan, melakukan intersep, membuka ruang, hingga membantu serangan membuatnya menjadi aset taktis yang fleksibel.
Yang paling diapresiasi oleh staf pelatih adalah sikap Eliano dalam menerima peran apa pun. Setiap instruksi baru dijalankan tanpa keraguan, sebuah kualitas yang jarang dimiliki pemain muda di level kompetitif Super League. Fleksibilitas ini memberi Persib lebih banyak opsi rotasi sepanjang musim yang panjang.
Dua Arah, Satu Tujuan di Super League
Apa yang ditunjukkan Persik dan Persib dalam pekan ini memperlihatkan dua situasi berbeda namun dengan tujuan yang sama: konsistensi performa. Persik berada dalam fase membangun ulang di bawah pelatih baru, sementara Persib mulai memetik hasil dari kedalaman skuad dan fleksibilitas pemainnya.
Perkembangan kedua tim dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi indikator penting sejauh mana adaptasi, manajemen taktik, dan kualitas individu mampu menentukan arah perjalanan mereka di Super League 2025/26.
Untuk pembaruan terbaru seputar Super League, hasil pertandingan, dan analisis mingguan, pembaca dapat mengunjungi halaman berita kami.
Sementara itu, rangkuman skor dan klasemen terkini tersedia lengkap di halaman hasil pertandingan.